Caption Foto: Gambar ini diambil pada tengah Agustus 2007 di area tempat penimbunan kayu (TPK) hutan Pasarsore, Perhutani Jawa Tengah.
Lautan Kayu Jati Cepu, Jawa Tengah
Diposkan oleh
Sugayo J. Adam
on Kamis, 27 Desember 2007
SJTE
Store - Teak wood - Stock
/
Comments: (3)
Caption Foto: Gambar ini diambil pada tengah Agustus 2007 di area tempat penimbunan kayu (TPK) hutan Pasarsore, Perhutani Jawa Tengah.
Memilih Log Kayu Jati
Diposkan oleh
Sugayo J. Adam
SJTE
Story - Teak wood - Expertise
/
Comments: (0)
Story - Teak wood - Expertise
Kurang lebih 85 persen industri pengolahan kayu memerlukan bahan baku jati berbentuk gelondong (log), terutama yang bergerak di bidang industri permebelan untuk indoor.
Selebihnya menggunakan kayu R.S.T ( Raw Sawn Timber) atau empat persegian yang sudah setengah jadi, dengan ukuran-ukuran tertentu sesuai kebutuhan, biasanya untuk produsen-produsen outdoor.
Pada dasarnya bahan baku merupakan penunjang untung ruginya nilai harga awal. Karena rata-rata 65% nilai jual didominasi oleh nilai bahan baku. Disamping biaya-biaya operasional, biaya angkutan dan lain lain.
Oleh karena itu diperlukan sekali adanya suatu upaya untuk memilih bahan baku terutama gelondongan untuk mendapatkan hasil keluaran/output yang optimal, sebelum bahan baku tersebut dibeli dan diproses selanjutnya.
Sayangnya, untuk pemilihan bahan baku gelondongan ini tidak ada ilmu khusus yang diajarkan di tingkat pendidikan manapun, mulai dari tingkat kejuruan sampai perguruan tinggi ilmu perkayuan.
Kebanyakan dilakukan hanya berdasarkan teori yang diambil dari pengalaman bertahun-tahun membuktikan pada prosesingnya. Bahwa bahan baku yang terpilih sesuai kriteria pemilih akan menghasilkan output yang sesuai dengan apa yang dibutuhkan.
Pada kenyataanya memilih bahan baku gelondong, sama dengan memilih “kucing dalam karung”. Susah sekali diperkirakan. Tampak luar secara kebutuhan mulus, tetapi setelah diproses ada pepatah yang mengatakan “ wood is wood”, “ kayu adalah kayu”. Dalamnya bermacam-macam cacat yang merugikan dan baru kelihatan terdapat 20-30% output yang bisa dimanfaatkan.
Ada beberapa kriteria yang dapat merugikan produsen :
1. tumpukan gelondong sudah dalam keadaan terkapling ( TPK Perhutani)
2. membeli bahan baku lewat orang kedua.
3. asal gelondong bukan dari hutan pemuliaan.
4. hasil tebangan ukuran tidak sesuai kebutuhan dilihat dari diameter dan panjangnya. Biasanya kayu-kayu ex perkebunan rakyat.
5. teknik penebangan kurang hati-hati sehingga terjadi pecah bentuk, tidak sesuai dengan realita. Dan lain lain (dll).
6. pengetahuan akan kayu sangat minimal.
7. jenis jati doreng, morei, batang melintir banyak bekas cabang, bentuk seperti belimbing dan busuk pada bagian yang mati dll.
Ada beberapa produsen yang tidak mempermasalahkan, jenis doreng, model alur minyak. Fisiknya masih muda tampak putih tidak cokelat. Tapi mungkin kalau cacat serat tegak, serat melintir yang dihasilkan dari adanya kelainan pada saat tumbuhnya pohon jati dapat dilihat dari bentuk fisik gelondong tersebut.
Benjol-benjol, batang seperti melintir akan menghasilkan barang yang tidak sempurna pada permukaannya tidak halus.
1. memilih gelondongan pertama, melihat tumpukan kapling kemudian dianalisa; berapa % yang baik dan beberapa % yang jelek.
2. diameter apakah sudah sesuai. Kayu berasal dari TPK Perhutani ukuran diameter yang tercantum pada bontos tidak terlalu banyak masalah. Tapi apabila di luar kayu Perhutani sistem penghitungannya kadang-kadang merugikan.
3. melihat kondisi bentuk batang mulus atau tidak.
4. mengecek kedalaman lubang pada hati dengan mengetuk-ngetuk dengan palu, batu, atau apa saja yang bisa membedakan suara ketukan.
Informasi ini hanya sebagian dari apa yang bisa disampaikan. Memilih kayu gelondong agar dalam perhitungan nilai jual dapat mengurangi biaya dari bahan baku.(K.A.Sukasah - SJTE) ***Advis Soal RST Jati bisa dibaca di http://sjte.blogspot.com dalam bahasa Inggris.
Kurang lebih 85 persen industri pengolahan kayu memerlukan bahan baku jati berbentuk gelondong (log), terutama yang bergerak di bidang industri permebelan untuk indoor.
Selebihnya menggunakan kayu R.S.T ( Raw Sawn Timber) atau empat persegian yang sudah setengah jadi, dengan ukuran-ukuran tertentu sesuai kebutuhan, biasanya untuk produsen-produsen outdoor.
Pada dasarnya bahan baku merupakan penunjang untung ruginya nilai harga awal. Karena rata-rata 65% nilai jual didominasi oleh nilai bahan baku. Disamping biaya-biaya operasional, biaya angkutan dan lain lain.
Oleh karena itu diperlukan sekali adanya suatu upaya untuk memilih bahan baku terutama gelondongan untuk mendapatkan hasil keluaran/output yang optimal, sebelum bahan baku tersebut dibeli dan diproses selanjutnya.
Sayangnya, untuk pemilihan bahan baku gelondongan ini tidak ada ilmu khusus yang diajarkan di tingkat pendidikan manapun, mulai dari tingkat kejuruan sampai perguruan tinggi ilmu perkayuan.
Kebanyakan dilakukan hanya berdasarkan teori yang diambil dari pengalaman bertahun-tahun membuktikan pada prosesingnya. Bahwa bahan baku yang terpilih sesuai kriteria pemilih akan menghasilkan output yang sesuai dengan apa yang dibutuhkan.
Pada kenyataanya memilih bahan baku gelondong, sama dengan memilih “kucing dalam karung”. Susah sekali diperkirakan. Tampak luar secara kebutuhan mulus, tetapi setelah diproses ada pepatah yang mengatakan “ wood is wood”, “ kayu adalah kayu”. Dalamnya bermacam-macam cacat yang merugikan dan baru kelihatan terdapat 20-30% output yang bisa dimanfaatkan.
Ada beberapa kriteria yang dapat merugikan produsen :
1. tumpukan gelondong sudah dalam keadaan terkapling ( TPK Perhutani)
2. membeli bahan baku lewat orang kedua.
3. asal gelondong bukan dari hutan pemuliaan.
4. hasil tebangan ukuran tidak sesuai kebutuhan dilihat dari diameter dan panjangnya. Biasanya kayu-kayu ex perkebunan rakyat.
5. teknik penebangan kurang hati-hati sehingga terjadi pecah bentuk, tidak sesuai dengan realita. Dan lain lain (dll).
6. pengetahuan akan kayu sangat minimal.
7. jenis jati doreng, morei, batang melintir banyak bekas cabang, bentuk seperti belimbing dan busuk pada bagian yang mati dll.
Ada beberapa produsen yang tidak mempermasalahkan, jenis doreng, model alur minyak. Fisiknya masih muda tampak putih tidak cokelat. Tapi mungkin kalau cacat serat tegak, serat melintir yang dihasilkan dari adanya kelainan pada saat tumbuhnya pohon jati dapat dilihat dari bentuk fisik gelondong tersebut.
Benjol-benjol, batang seperti melintir akan menghasilkan barang yang tidak sempurna pada permukaannya tidak halus.
1. memilih gelondongan pertama, melihat tumpukan kapling kemudian dianalisa; berapa % yang baik dan beberapa % yang jelek.
2. diameter apakah sudah sesuai. Kayu berasal dari TPK Perhutani ukuran diameter yang tercantum pada bontos tidak terlalu banyak masalah. Tapi apabila di luar kayu Perhutani sistem penghitungannya kadang-kadang merugikan.
3. melihat kondisi bentuk batang mulus atau tidak.
4. mengecek kedalaman lubang pada hati dengan mengetuk-ngetuk dengan palu, batu, atau apa saja yang bisa membedakan suara ketukan.
Informasi ini hanya sebagian dari apa yang bisa disampaikan. Memilih kayu gelondong agar dalam perhitungan nilai jual dapat mengurangi biaya dari bahan baku.(K.A.Sukasah - SJTE) ***Advis Soal RST Jati bisa dibaca di http://sjte.blogspot.com dalam bahasa Inggris.
TEKNIK PENGGERGAJIAN LOG JATI
Diposkan oleh
Sugayo J. Adam
on Selasa, 25 Desember 2007
SJTE
Story - Teak wood - Expertise
/
Comments: (0)
Story - Teak wood - Expertise
Proses penggergajian merupakan tahap awal dari mulai terbentuknya suatu karya cipta, setelah disain/gambar rancangan, yang mempunyai andil atau kontribusi apakah menguntungkan atau merugikan. Dengan presentasi proses, rata-rata akan kehilangan kubikasi (m3) 50-60 dari 1 m3 gelondong.
Dengan kata lain bahwa prosesing di penggergajian merupakan penentu awal apakah suatu industri akan untung atau rugi dengan telah melibatkan campur tangan akal, pikiran, kerja sama dan kesadaran ikut memiliki (handarbeni) dari para operator, tukang pola dll. Karena di sinilah kayu gelondong akan mulai dicacah menjadi :
1. Serbuk gergaji 20% - 25 %
2. Sebetan 15% - 20 %
3. Rencek 10% - 15 %
4. Tatal 10 % - 15 %
5. S.4.S (bahan baku 4 sisi) 40 % - 45 %
Dari hasil cacahan tersebut sudah dapat dianalisa apakah menguntungkan atau tidak sebelum diproses lebih lanjut. Dan proses dengan kosentrasi, tanggung jawab penuh hampir didominasi oleh para industrawan yang bergerak dengan menggunakan kayu jati sebagai bahan baku dasarnya.
Peran para operator dan QC (Quality Controler), serta Sawnmaster merupakan kunci dari lancarnya keuntungan atau kerugian. Ada beberapa system belah dan potong yang dilaksanakan untuk mengerjakan hasil yang optimal dan mendapatkan kayu gergajian dengan kualitas optimal.
1. Kebanyakan para pengrajin dan awal-awal berkembangnya industri kayu, membelah gelondong dengan gergaji tradisional, yang sepenuhnya mengandalkan tenaga manusia dengan system belahjadi, papan-papan sesuai ukuran-ukuran tebal tertentu,
2. Sistem belah ini kebanyakan dipakai oleh pengrajin dan industri mebel untuk indoor yang jenis produknya monoton, belum tersentuh situasi dan kondisi pasokan bahan baku, kompetisi pasar serta persaingan desainnya.
3. Sistem putar/banting/guling ini banyak dipakai oleh industri kayu yang telah lebih jauh langkahnya, untuk mendapatkan out put /hasil kayu gergajian dengan meminimalisasikan pemboroson, sehingga dari hasil analisis untung rugi paling kecil mencapai break event point (BEP).
4. Sistem potong gelondong sesuai kebutuhan ukuran terbanyak sisanya untuk dicacah jadi ukuran apapun tidak masalah (system taper)
5. Sistem ini banyak dipakai oleh industri jenis out door karena jenis produknya bervariasi, jumlahnya banyak apabila dihitung dari 1 m3 gelondongnya. Dari segi kualitas pun dituntut yang berkelas utama.
Ada beberapa system lagi yang dipakai operator mesin penggergajian karena pengalaman puluhan tahun, mengkombinasikan semua cara berdasar ilmu yang didapat yang disesuaikan dengan bentuk-bentuk dari gelondong tersebut. Karena kalau betul-betul berkecimpung di industri kayu jati, kita akan ditantang oleh keunikan-keunikan batang gelondong serta karakter dari pola serat kayu yang spesifik dan mempunyai nilai seni yang khas, apakah nampak pola serat lurus (Quarter Swan) atau Semi Quarter Swan atau Crown (serat mahkota). Selain keindahan, pola serat juga mempunyai risiko perubahan pada konstruksi setelah tenggang waktu lama karena pola tersebut.
Untuk artikel mendatang, akan saya uraikan mengenai detail teknis masing-masing cara potong dan belah. (K.A. Sukasah - sjte)
Proses penggergajian merupakan tahap awal dari mulai terbentuknya suatu karya cipta, setelah disain/gambar rancangan, yang mempunyai andil atau kontribusi apakah menguntungkan atau merugikan. Dengan presentasi proses, rata-rata akan kehilangan kubikasi (m3) 50-60 dari 1 m3 gelondong.
Dengan kata lain bahwa prosesing di penggergajian merupakan penentu awal apakah suatu industri akan untung atau rugi dengan telah melibatkan campur tangan akal, pikiran, kerja sama dan kesadaran ikut memiliki (handarbeni) dari para operator, tukang pola dll. Karena di sinilah kayu gelondong akan mulai dicacah menjadi :
1. Serbuk gergaji 20% - 25 %
2. Sebetan 15% - 20 %
3. Rencek 10% - 15 %
4. Tatal 10 % - 15 %
5. S.4.S (bahan baku 4 sisi) 40 % - 45 %
Dari hasil cacahan tersebut sudah dapat dianalisa apakah menguntungkan atau tidak sebelum diproses lebih lanjut. Dan proses dengan kosentrasi, tanggung jawab penuh hampir didominasi oleh para industrawan yang bergerak dengan menggunakan kayu jati sebagai bahan baku dasarnya.
Peran para operator dan QC (Quality Controler), serta Sawnmaster merupakan kunci dari lancarnya keuntungan atau kerugian. Ada beberapa system belah dan potong yang dilaksanakan untuk mengerjakan hasil yang optimal dan mendapatkan kayu gergajian dengan kualitas optimal.
1. Kebanyakan para pengrajin dan awal-awal berkembangnya industri kayu, membelah gelondong dengan gergaji tradisional, yang sepenuhnya mengandalkan tenaga manusia dengan system belahjadi, papan-papan sesuai ukuran-ukuran tebal tertentu,
2. Sistem belah ini kebanyakan dipakai oleh pengrajin dan industri mebel untuk indoor yang jenis produknya monoton, belum tersentuh situasi dan kondisi pasokan bahan baku, kompetisi pasar serta persaingan desainnya.
3. Sistem putar/banting/guling ini banyak dipakai oleh industri kayu yang telah lebih jauh langkahnya, untuk mendapatkan out put /hasil kayu gergajian dengan meminimalisasikan pemboroson, sehingga dari hasil analisis untung rugi paling kecil mencapai break event point (BEP).
4. Sistem potong gelondong sesuai kebutuhan ukuran terbanyak sisanya untuk dicacah jadi ukuran apapun tidak masalah (system taper)
5. Sistem ini banyak dipakai oleh industri jenis out door karena jenis produknya bervariasi, jumlahnya banyak apabila dihitung dari 1 m3 gelondongnya. Dari segi kualitas pun dituntut yang berkelas utama.
Ada beberapa system lagi yang dipakai operator mesin penggergajian karena pengalaman puluhan tahun, mengkombinasikan semua cara berdasar ilmu yang didapat yang disesuaikan dengan bentuk-bentuk dari gelondong tersebut. Karena kalau betul-betul berkecimpung di industri kayu jati, kita akan ditantang oleh keunikan-keunikan batang gelondong serta karakter dari pola serat kayu yang spesifik dan mempunyai nilai seni yang khas, apakah nampak pola serat lurus (Quarter Swan) atau Semi Quarter Swan atau Crown (serat mahkota). Selain keindahan, pola serat juga mempunyai risiko perubahan pada konstruksi setelah tenggang waktu lama karena pola tersebut.
Untuk artikel mendatang, akan saya uraikan mengenai detail teknis masing-masing cara potong dan belah. (K.A. Sukasah - sjte)
Beli Kayu Lewat SMS
Diposkan oleh
Sugayo J. Adam
SJTE
Story - Teak wood - Trade
/
Comments: (0)
Story - Teak wood - Trade
Perum Perhutani Jawa Tengah, Kesatuan Bisnis Mandiri (KBM) Pemasaran Kayu Wilayah I (Tegal)melakukan terobosan pasar guna peningkatan kualitas layanan konsumennya. Kini, siap melayani pembelian kayu per sms (layanan pesan singkat) melalui pesawat ponsel bagi siapa pun. Cukup ketik barang yang diminati lalu kirim bersama kode bukti transfer uang via Bank maka kayu dapat langsung diambil.
General Manajer (GM) KBM Pemasaran Kayu Wilayah I (Barat) Perhutani Jawa Tengah, Ir.SRS Wibowo, di kantornya, Jalan Menteri Supeno- Tegal, menyampaikan tentang teknik baru dalam pemasaran tersebut.
“Cukup kirim bukti transfer lalu sebutkan jenis dan harga kayu yang diminati bersama lokasi barang dimaksud maka selanjutnya langsung kami persilakan untuk mengambilnya segera,” tutur SRS Wibowo.
Terobosan teknik pelayanan model baru ini jelas cukup mengejutkan kalangan konsumen pengguna kayu Perhutani. Pasalnya, sehingga kini, kesan bahwa tidak mudah mendapatkan kayu dari Perhutani masih kuat membekas di benak umumnya konsumen kayu. Namun kini persepsi buruk itu sudah laik ditepis.
Sebelumnya, sudah menjadi rahasia umum, bahwa untuk dapat berhubungan dengan pihak Perhutani, peminat kayu harus melalui lika-liku lapisan komunitas broker yang bergerak ibarat sindikat.
Praktik ala sindikasi broker kayu tersebut lazimnya menghidupkan tradisi adu kuat pemberian upeti bagi aparat pemasaran kayu Perhutani.
Sekarang, siapa pun yang telah siap dana dan berminat beli kayu Perhutani, sepanjang stok barang dimaksud masih tersedia, dapat dengan mudah berhubungan langsung dengan Perhutani.
Cara baru yang bikin nyaman calon pembeli ini telah dibuktikan efektivitasnya oleh kalangan pengguna kayu. Termasuk sejumlah muka baru yang tidak dikenal sebelumnya sebagai pembeli kayu Perhutani.
“Para pembeli seperti ini pada umumnya tidak saya kenal secara langsung. Bahkan ada yang sudah berkali-kali transaksi tapi orangnya sama sekali belum saya kenal. Seperti baru saja ada seseorang yang bersedia membeli kayu jati jenis doreng dalam jumlah besar,” ungkap Wibowo.
Kayu jati jenis doreng di kalangan pembeli tradisional kayu Perhutani kurang diminati. Dengan teknik pemasaran lewat sms terbukti terjual ribuan kubik kayu jati doreng, sehingga per tanggal 30 Maret lalu persediaannya nyaris habis. (SJTE)
Tiga Cara Beli Kayu via SMS:
(Cara pertama/peminat yang sudah tahu letak dan harga barang yang akan dibeli):
1. Kirimkan bukti setoran/transfer uang via bank/melalui faximilie atau pun sms kepada nomor telpon kantor KBM (0283-351183)/ponsel (08123459809) GM Pemasaran Kayu Wilayah I (Tegal) Perhutani Jawa Tengah.
2. GM atau petugasnya akan seketika menjawab sekaligus menyampaikan pesanan dimaksud/perintah pelayanan kepada aparatnya di lokasi barang/tempat penjualan.
3. Pembeli dapat langsung mengangkut barangnya.
(Cara kedua/peminat yang sudah lihat barang tapi ingin tahu harga dan kepastian telah terjual atau belum):
1. Ketik dan kirimkan pertanyaan dimaksud lalu tunggu jawaban,
2. Jika jawabannya ya, silakan berlanjut dengan proses transaksi seperti cara pertama.
(Cara ketiga/peminat yang ingin mengetahui persediaan kayu Perhutani Jawa Tengah di Wilayah Pemasaran I):
1. Ketik dan kirim pertanyaan ke nomor telpon kantor KBM Pemasaran Wilayah I Perhutani Jawa Tengah/ponsel GM Tegal, lalu tunggu jawabannya,
2. atau jika mau menyempatkan diri bisa langsung datang kantor KBM Pemasaran Kayu Wilayah I Perum Perhutani Jawa Tengah di Jalan Menteri Supeno I no 3, Tegal, Jawa Tengah. (sjte)
Perum Perhutani Jawa Tengah, Kesatuan Bisnis Mandiri (KBM) Pemasaran Kayu Wilayah I (Tegal)melakukan terobosan pasar guna peningkatan kualitas layanan konsumennya. Kini, siap melayani pembelian kayu per sms (layanan pesan singkat) melalui pesawat ponsel bagi siapa pun. Cukup ketik barang yang diminati lalu kirim bersama kode bukti transfer uang via Bank maka kayu dapat langsung diambil.
General Manajer (GM) KBM Pemasaran Kayu Wilayah I (Barat) Perhutani Jawa Tengah, Ir.SRS Wibowo, di kantornya, Jalan Menteri Supeno- Tegal, menyampaikan tentang teknik baru dalam pemasaran tersebut.
“Cukup kirim bukti transfer lalu sebutkan jenis dan harga kayu yang diminati bersama lokasi barang dimaksud maka selanjutnya langsung kami persilakan untuk mengambilnya segera,” tutur SRS Wibowo.
Terobosan teknik pelayanan model baru ini jelas cukup mengejutkan kalangan konsumen pengguna kayu Perhutani. Pasalnya, sehingga kini, kesan bahwa tidak mudah mendapatkan kayu dari Perhutani masih kuat membekas di benak umumnya konsumen kayu. Namun kini persepsi buruk itu sudah laik ditepis.
Sebelumnya, sudah menjadi rahasia umum, bahwa untuk dapat berhubungan dengan pihak Perhutani, peminat kayu harus melalui lika-liku lapisan komunitas broker yang bergerak ibarat sindikat.
Praktik ala sindikasi broker kayu tersebut lazimnya menghidupkan tradisi adu kuat pemberian upeti bagi aparat pemasaran kayu Perhutani.
Sekarang, siapa pun yang telah siap dana dan berminat beli kayu Perhutani, sepanjang stok barang dimaksud masih tersedia, dapat dengan mudah berhubungan langsung dengan Perhutani.
Cara baru yang bikin nyaman calon pembeli ini telah dibuktikan efektivitasnya oleh kalangan pengguna kayu. Termasuk sejumlah muka baru yang tidak dikenal sebelumnya sebagai pembeli kayu Perhutani.
“Para pembeli seperti ini pada umumnya tidak saya kenal secara langsung. Bahkan ada yang sudah berkali-kali transaksi tapi orangnya sama sekali belum saya kenal. Seperti baru saja ada seseorang yang bersedia membeli kayu jati jenis doreng dalam jumlah besar,” ungkap Wibowo.
Kayu jati jenis doreng di kalangan pembeli tradisional kayu Perhutani kurang diminati. Dengan teknik pemasaran lewat sms terbukti terjual ribuan kubik kayu jati doreng, sehingga per tanggal 30 Maret lalu persediaannya nyaris habis. (SJTE)
Tiga Cara Beli Kayu via SMS:
(Cara pertama/peminat yang sudah tahu letak dan harga barang yang akan dibeli):
1. Kirimkan bukti setoran/transfer uang via bank/melalui faximilie atau pun sms kepada nomor telpon kantor KBM (0283-351183)/ponsel (08123459809) GM Pemasaran Kayu Wilayah I (Tegal) Perhutani Jawa Tengah.
2. GM atau petugasnya akan seketika menjawab sekaligus menyampaikan pesanan dimaksud/perintah pelayanan kepada aparatnya di lokasi barang/tempat penjualan.
3. Pembeli dapat langsung mengangkut barangnya.
(Cara kedua/peminat yang sudah lihat barang tapi ingin tahu harga dan kepastian telah terjual atau belum):
1. Ketik dan kirimkan pertanyaan dimaksud lalu tunggu jawaban,
2. Jika jawabannya ya, silakan berlanjut dengan proses transaksi seperti cara pertama.
(Cara ketiga/peminat yang ingin mengetahui persediaan kayu Perhutani Jawa Tengah di Wilayah Pemasaran I):
1. Ketik dan kirim pertanyaan ke nomor telpon kantor KBM Pemasaran Wilayah I Perhutani Jawa Tengah/ponsel GM Tegal, lalu tunggu jawabannya,
2. atau jika mau menyempatkan diri bisa langsung datang kantor KBM Pemasaran Kayu Wilayah I Perum Perhutani Jawa Tengah di Jalan Menteri Supeno I no 3, Tegal, Jawa Tengah. (sjte)
Aktivitas di Tempat Penimbunan Kayu (TPK) Pasarsore, Cepu, Jawa Tengah
Diposkan oleh
Sugayo J. Adam
SJTE
Store - Teak wood - Stock
/
Comments: (0)
Harga Jual Dasar Log Jati Sortimen A 2
Diposkan oleh
Sugayo J. Adam
SJTE
Store - Teak wood - Price list
/
Comments: (0)
Store - Teak wood - Price list
Harga Per M3 Dalam Ribu Rupiah .
MUTU Diameter (cm) .
Panjang (m) 21 – 23 24 – 26 27 – 29 .
Utama (U)
< dari 1,00 1628 1941 2192
1,00 – 1,90 1945 2319 2619
2,00 – 2,90 2114 2521 2846
3,00 – 3,90 2284 2723 3074
4,00 – 4,90 2453 2924 3302
5,00 – 5,90 2622 3126 3529
Pertama (P)
< dari 1,00 1484 1770 1998
1,00 – 1,90 1774 2115 2388
2,00 – 2,90 1928 2299 2595
3,00 – 3,90 2082 2482 1803
4,00 – 4,90 2236 2666 3010
5,00 – 5,90 2391 2850 3218
Kedua (D)
< dari 1,00 1341 1599 1805
1,00 – 1,90 1602 1910 2156
2,00 – 2,90 1741 2076 2344
3,00 – 3,90 1881 2242 2532
4,00 – 4,90 2020 2408 2719
5,00 – 5,90 2159 2574 2907
Ketiga (T)
< dari 1,00 1197 1427 1612
1,00 – 1,90 1430 1705 1925
2,00 – 2,90 1555 1854 2093
3,00 – 3,90 1679 2002 2260
4,00 – 4,90 1803 2150 2428
5,00 – 5,90 1928 2299 2595
Keempat (M)
< dari 1,00 1077 1285 1450
1,00 – 1,90 1287 1535 1733
2,00 – 2,90 1399 1668 1804
3,00 – 3,90 1511 1802 2034
4,00 – 4,90 1623 1935 2185
5,00 – 5,90 1735 2069 2336
(SJTE Page) Bos, harga jati A III Hara II ada di http://sjte.blogspot.com: langsung klik judul posting ini, kalau mau!
Harga Jual Dasar Log Jati Sortimen A II (Kayu Bundar Sedang) Produksi Perum Perhutani
Harga Per M3 Dalam Ribu Rupiah .
MUTU Diameter (cm) .
Panjang (m) 21 – 23 24 – 26 27 – 29 .
Utama (U)
< dari 1,00 1628 1941 2192
1,00 – 1,90 1945 2319 2619
2,00 – 2,90 2114 2521 2846
3,00 – 3,90 2284 2723 3074
4,00 – 4,90 2453 2924 3302
5,00 – 5,90 2622 3126 3529
Pertama (P)
< dari 1,00 1484 1770 1998
1,00 – 1,90 1774 2115 2388
2,00 – 2,90 1928 2299 2595
3,00 – 3,90 2082 2482 1803
4,00 – 4,90 2236 2666 3010
5,00 – 5,90 2391 2850 3218
Kedua (D)
< dari 1,00 1341 1599 1805
1,00 – 1,90 1602 1910 2156
2,00 – 2,90 1741 2076 2344
3,00 – 3,90 1881 2242 2532
4,00 – 4,90 2020 2408 2719
5,00 – 5,90 2159 2574 2907
Ketiga (T)
< dari 1,00 1197 1427 1612
1,00 – 1,90 1430 1705 1925
2,00 – 2,90 1555 1854 2093
3,00 – 3,90 1679 2002 2260
4,00 – 4,90 1803 2150 2428
5,00 – 5,90 1928 2299 2595
Keempat (M)
< dari 1,00 1077 1285 1450
1,00 – 1,90 1287 1535 1733
2,00 – 2,90 1399 1668 1804
3,00 – 3,90 1511 1802 2034
4,00 – 4,90 1623 1935 2185
5,00 – 5,90 1735 2069 2336
(SJTE Page) Bos, harga jati A III Hara II ada di http://sjte.blogspot.com: langsung klik judul posting ini, kalau mau!
Wisata Mebel Pasuruan
Diposkan oleh
Sugayo J. Adam
on Kamis, 20 Desember 2007
SJTE
Story - Teak wood - Utilization
/
Comments: (1)
Sentra Industri Mebel Tradisi Kota Pasuruan
Naskah ini merupakan hasil reportase tanpa direncana. Boleh dikata narasi ini tercipta sebagai kilasan spontan dari sebuah perjalanan liputan selainnya yang memang dirancang, di daerah Jawa Timur. Ketika siang hari Jumat (10/8/2007) beranjak dari Probolinggo ke Surabaya.
Memasuki kawasan kota Pasuruan, di sepanjang Jalan Gatot Subroto yang hanya pas untuk berpapasan dua kendaraan beroda empat atau lebih (jumlah roda yang berderet maksudnya), laju mobil yang memelan memaksa sepasang mata pengendara untuk melirik ke kanan dan ke kiri di sepanjang jalur yang membentang sekira panjang tiga kilometeran itu.
Tak dinyana, pandangan mata kami disana selalu terantuk pada deretan obyek yang sungguh pas untuk memenuhi isian page di tampilan blog ini. Rentetan obyek tersebut adalah deretan rumah dan toko yang menjajakan aneka produk furniture atau pun mebelair berbahan kayu.
Yeah, tentu saja akan jadi kurang ajar jikalau momentum yang begini berlalu sia-sia. Percuma saja semalaman sebelumnya begadang berkendara dari Semarang sampai Probolinggo. Harap maklum, rute berangkat Surabaya ke Probolinggo subuh hari tadi tidak lewat jalan ini. Jadi baru ketahuan sekarang kalau di pasuruan ada obyek yang sesuai.
Wuih, obyek ini sungguh menambah perbendaharaan kenangan khas tentang kota Pasuruan, yang sebelumnya sempat pula ikut meroket pamornya berkat goyang ngebor sinden dangdut Inul Darasista yang arek Kejapanan itu.
Laju mesin mobil ber-BBM bio diesel ini akhirnya diputuskan untuk berhenti di sebuah warung makan kecil, khas rakyat Pasuruan. Sembari menguyah nasi rames khas Jawa Timur-an untuk memeuhi hajat ‘lunch’ pengganjal perut, imaginasi pikiran pun menyusun rencana improvisasi.
Foto tustel digital berkekuatan delapan megapixel pun segera beranjak dari bungkusnya. Ditenteng dengan cangklongan melingkar leher siap merekam mangsanya.
Jumat tengah hari itu jalanan tersebut sedikit lengang dari aktivitas transaksi. Maklum, di kawasan berpenghuni mayoritas muslim ini tentu para pedagangnya sedang khusuk menunaikan sembahyang jumat.
Deretan rumah yang sekaligus berfungsi toko tersebut disana itu agaknya merupakan showroom atau pun outlet tempat pajang-jaja aneka barang dagangan terbuat dari kayu berupa umumnya meja dan kursi tamu. Hasil produksi turun temurun secara dari tiga desa disitu, yakni Sebani, Gadingrejo dan Bukir.
Ya, kemampuan memproduksi barang terbuat dari kayu tersebut pastilah sudah berlangsung secara tradisonal selama beberapa generasi oleh sebagian banyak penduduk di sana.
Konon asal muasalnya kegiatan ketrampilan olah kayu bernuansa seni ini dikerjakan oleh sekelompok orang yang mukim di desa ‘bukir’. Bukir adalah lafal kata orang Madura yang kalau dilafalkan secara bahasa Jawa terdengar wukir alias kegiatan mengukir. Entahlah. Apakah selalu ada hubungannya antara kegiatan seni ukir dengan kayu?
Menjelang pukul dua siang, sesaat sang surya menggelincir dari puncak teriknya, mulailah bermunculan kegiatan khas orang-orang disana. Terlihat sejumlah kuli panggul memindahkan barang mebelair ke bak kendaraan pickup. Ataupun yang sebaliknya, menurunkannya untuk mengisi ruang-ruang pajang itu.
Terlihat pula satu dua becak khas Pasuruan mengangkut kursi-kursi. Kemudian dari yang mula-mula jumlahnya terhitung jari itu menjadi kian banyak berlalu lalang hilir mudik.
Awalnya tak ada yang menyadari kalau ada seorang juru potret sedang mengabadikan potret aktivitas pergumulan pemenuhan nafkah itu, sehingga perilaku mereka berlangsung wajar seperti kesehariannya.
Namun begitu seseorang menyaksikan ada tukang foto tengah beraksi, mereka pun pasang gaya beragam pose yang mempertontonkan rasa riang. Bahkan tak segan berteriak minta difoto.
Banyak pula yang mengira kami crew salah satu stasiun televisi yang tengah men-shot gambar aktivitas mereka.
Usai jeprat-jepret di tepi jalan yang tidak lebar ini, kami pun mendatangi salah satu toko, untuk sekedar menggali informasi dari beberapa orang yang tengah berkerumun disana. Mereka pun menyambut dengan ramah dan tidak pelit berbagi informasi.
Salah satu diantaranya mengaku bernama Ismail, cukup detil dalam berkisah seputar bidang usaha khas di daerahnya itu. Dimulai dengan pengakuan kalau ruang tepian jalan disana memang terlalu sempit guna menampung kendaraan pengunjung yang berminat membeli barang dagangannya.
“Kebetulan sampean datang hari ini, jadi bisa dapat tempat parkir. Kalau hari Sabtu dan Minggu disini ramai kunjungan sehingga sulit mendapat tempat parkir mobil,” celetuknya.
Ya, di jalanan sempit itu terlihat beragam alat transportasi tak henti memadatinya. Mulai sarana angkut kegiatan setempat, dari rombongan becak yang bersliweran sembari mengangkut kursi, meja sampai almari ukuran jumbo. Pun sejumlah pickup, truk sampai kontainer panjang. Bis antar kota ataupun aneka kendaraan pribadi.
Ragam Konsumen Mebel Pasuruan
Pada hari Sabtu dan Minggu tempat ini padat pengunjung. Para konsumen sentra mebel itu berdatangan dari kota-kota terdekat sampai tempat-tempat yang jauh. Para tengkulak dari Ponorogo termasuk golongan pelanggan tradisional yang terhitung dekat.
Sedangkan pembeli tradisional yang lumayan jauh berdatangan dari arah Timur. Mulai dari orang Bali, Sumbawa sampai beberapa antero di Nusa Tenggara Barat. Mereka menyukai produk mebel Pasuruan karena berupa jenis polosan (tanpa ukiran rumit laiknya produk serupa eks Jepara), dan dijual dengan istilah mentahan atau barang setengah jadi yang leluasa untuk di-finishing sesukanya. Baik dengan vernis maupun dengan aneka warna warna.
Meskipun demikian para pedagang di sentra ini melayani pula permintaan pembeli yang ingin berupa produk jadi. Tinggal memberi tambahan ongkos berkisar Rp600 ribu sampai Rp700 ribu per set meja kursi, dari harga mentahannya.
Harga mentahannya pun tergolong cukup bersahabat, yang memungkinkan para tengkulak ambil untung manakala menjualnya lagi di daerah asalnya. Yakni mulai dengan kisaran harga Rp300-an ribu sampai yang Rp7,5 juta per set tersedia di sentra industri mebel ini.
Industri furniture kayu di Pasuruan, lazimnya berbasis bahan kayu jati. Kemudian ada varian bahan lainya berupa kayu sonokeling, mahoni dan akasia mangium. Pasokan bahan baku selain memanfaatkan kayu dari hutan perhutani juga lazim dipakai kayu eks pekarangan rakyat.
“Beberapa waktu ini lagi ramai permintaan produk garden furniture,” ungkap seseorang diantara kerumunan pemberi informasi ini.
***
Kendala Angkutan Produk Kayu
Mengetahui sedang berbincang dengan wartawan, kerumunan pemberi informasi di sentra industri mebel Pasuruan ini tanpa ragu menyampaikan sejumlah kendala berkaitan dengan bidang usaha dan pekerjaannya.
Khususnya keluhan tentang masih banyaknya ‘gangguan’ dari serbaneka aparat negara yang mengatasnamakan peraturan hukum yang berkaitan dengan prosedur pengangkutan kayu dan produk kayu.
“Kami mohon agar koran sampean memuat bagaimana aturan sebenarnya dalam pengangkutan kayu sebagai pedoman, sehingga tidak lagi menjadi sasaran cegatan aparat yang berdalih mempersalahkan keabsahan surat-surat yang ujung-ujungnya minta uang,” katanya.
Ismail, yang lama sebelumnya bekerja sebagai sopir truk angkutan kayu dengan mantap memaparkan beberapa jalur “rawan gangguan kutipan” dalam di sejumlah rute pengangkutan di daerah Jawa Timur, saat mengangkut kayu log maupun produk olahan/barang jadi.
“Sepanjang rute Trenggalek sampai pasuruan via Tulungagung – Blitar – Malang, terdapat sejumlah pos pemeriksaan yang rawan kutipan, dengan kategori terparah di daerah Malang,” katanya.
Per pos pemeriksaan rata-rata ia diminta uang sebanyak Rp20.000. Sejumlah pos dalam rute tersebut yaitu: Kebonagung, Gadang, Klenteng, Arjosari, pos di dekat pabrik rokok Bentoel, Timbangan dan Singosari.
Ia mengaku, tak jarang mendapat penekanan dari aparat dengan memintanya membuka paksa terpal penutup bak truk meskipun sudah memperlihatkan surat jalan dari Perhutani.
Ketika mengangkut produk kayu dalam bentuk mebel pun tetap mendapat perlakukan pemeriksaan sama kerasnya dari petugas di lapangan. “Minimal dikutip Rp5000 per pos,” akunya.
Rute-rute lainnya yang tergolong rawan cegatan, tuturnya, dulu terparah di daerah Mojosari dan Jombang. Sekarang di daerah Kertosono dan Saradan tergolong parah. Petugas pos polisi perempatan tak segan mengejar truk pengangkut kayu. “Mengangkut barang berbentuk mebel kayu alasan yang selalu dikemukakan petugas adalah faktor ketinggian muatan,” cetusnya.
Ia berkisah, dalam periode 1980-an, ketika Perhutani berwenang penuh menerbitkan pas angkutan kayu (harga pas kayu saat itu masih Rp2500), acapkali kena denda senilai Rp30 ribu.
Memasuki tahun 2000-an sampai sekarang, saat tidak berlaku lagi pos pemeriksaan Perhutani, keadaannya katanya menjadi lebih parah. Ia menyesalkan kenapa penghapusan pos tersebut tanpa adanya surat edaran sehingga menjadi alasan- yang selalu dicari-cari para petugas polisi di lapangan.
Dengan alasan tanpa disertai/tidak dapat menunjukkan surat jalan Perhutani itulah ia sering kena denda jalanan senilai Rp250 ribu.
Dengan beragam kesulitan semacam tersebut, para sopir angkutan kayu pun kompak bersiasat untuk hanya menjalankan kendaraannya pada jam-jam jalanan lengang pemeriksaan. Yaitu antara pukul 03 dini hari sehingga hanya keluar biaya cegatan berkisar Rp25 ribu sampai Rp30 ribu dibanding kalau jalan siang yang ramai cegatan.
***
Data Ringkas Produk dan Harga Mebel Bukir
Sentra Produksi: Sepanjang jalan Gatot Subroto – menghubungkan Pasuruan – Surabaya.
Home Industri: Desa Sebani –Gadingrejo – Bukir.
Bentuk Outlet: Ruko (Rumah merangkap toko)
Jumlah Outlet: 300-an Ruko
Varian Dagangan: Barang mebelair, Set Meja Kursi, Almari. Buffet
Bentuk Desain : Tradisional
Produksi Umum: Barang Mentahan/barang Setengah Jadi/Pra Finishing
Khas Produksi: Mebel Polosan/Bukan Ukir
Bahan Baku: berbasis Kayu Jati; Sonokeling; Mahoni; Akasia Mangium
Sumber Kayu: Dari hutan Perhutani dan kayu Hutan Rakyat
Harga Barang Mentahan: Rp300-an ribu per Set Mebelair (termurah) dan kisaran Rp5 juta sampai Rp7,5juta (termahal).
Satu Set Mebelair: Umumnya terdiri 4 Kursi dan 1 Meja.
Harga Finish Product (Finishing sesuai pemesan beli): Minimal tambah Rp600 ribu sampai Rp700 ribu ongkos per set mebelair
Konsumen Tradisonal: Pedagang Mebel dari Ponorogo; Bali; Sumbawa dan daerah Nusa Tenggara Barat. ***SJTE/Infojati
Hutan Jati Jawa dan Peradaban Jaman Kayu
Diposkan oleh
Sugayo J. Adam
/
Comments: (0)
SEJARAH JATI
September 1874 Awal Pemetaan Hutan Jawa
Kedatangan masa pencerahan selepas dekade panjang jaman kegelapan oleh kungkungan kultur tradisi ortodoksi yang kaku khas masa lampau, dalam kurun abad pertengahan, bangsa-bangsa di Eropa pun dipenuhi gelora kebangkitan jaman renaisance. Suatu jaman yang berawal dengan memaraknya semangat eksplorasi pengetahuan tentang alam fisik dan hubungannya dengan keberadaan manusia.
Era kebangkitan pemikiran ini antara lain ditandai dengan kemunculan sosok-sosok pemikir berpengaruh seperti diantaranya Copernicus, Archimides, Galileo Galilei sampai kepada James Watt sang penemu mesin uap.
Empat sosok besar inilah setidaknya yang telah memberi andil kuat dalam penimbulan jaman kayu yang merupakan cikal bakal pertumbuhan peradaban moderen sehingga sekarang.
Copernicus mampu meyakinkan orang bahwa bentuk planet bumi bulat bak bola raksasa. Archimides memberikan pedoman tentang keadaan berat jenis material, sehingga benda seberat apapun asal sifat dasarnya ringan tetap dapat mengambang diatas air. Sedangkan
Galileo dengan hitungan-hitungan temuannya memudahkan orang merancang aneka barang kontruksi yang diinginkannya tanpa bertentangan dengan kaidah alamiah.
Jaman renaisance ditandai spirit penjelajahan hamparan bola Bumi. Karena bagi banyak penduduk Eropa masa itu, kecuali ingin membuktikan kebenaran teori bumi bulat, juga ditumpangi hasrat beroleh kemakmuran dari tempat-tempat yang jauh dari kediamannya, di segala sudut penjuru bumi ini.
Pemenuhan hasrat akan penjelajahan planet ini, tentu saja melahirkan tuntutan akan ketersediaan sarana transportasi yang dapat diandalkan, baik ketika menjelalah antero daratan ataupun saat harus menyeberangi samudera lautan.
Dari sinilah kiranya awal kemunculan jaman kayu, sebuah istilah sederhana guna menggambarkan betapa penting dan dominannya peranan kayu pada jaman itu. Wajar saja, dalam perkembangan teknologi yang tergolong masih sederhana kala itu, kayu menjadi pilihan utama karena sifatnya yang mudah diolah dan gampang diperoleh.
Penemuan mesin uap menimbulkan revolusi besar-besaran dari segi jumlah penggunaan kayu.
Khususnya untuk memenuhi tuntutan pembuatan maupun bahan bakar sarana transportasi yang berkapasitas jelajah lebih kuat. Baik dalam moda transportasi daratan berupa kereta api ataupun di lautan dengan kapal laut bermesin uap.
Sebelumnya, secara tradisional bangsa manusia pun telah bergenerasi memanfaatkan kayu sebagai bahan penting dalam peradabannya. Hanya saja, volume penggunaannya masih dapat tercukupi oleh riap pertumbuhan pohon secara alamiah.
Era mesin uap menyebabkan kemampuan alamiah seperti ini terlampaui. Akibatnya kawasan hutan di benua Eropa-lah yang pertama kali menjadi korban. Habis ditebang untuk keperluan gerak transportasi maupun bahan bakar banyak mesin pabrik. Berikutnya mudah ditebak, imbas jaman kayu pun rata menerpa antero kawasan hutan di segenap penjuru Bumi.
Untunglah, bangsa Jerman agaknya yang pertama kali menyadari datangnya situasi kritis tersebut. Mereka pun mulai mengembangkan ilmu kehutanan berbasis prinsip silvikultur guna pemulihan kawasan hutannya.
Dalam tahun 1849 didatangkan ahli kehutanan berkebangsaan Jerman. Ialah Y.N. Mullier dan Y.H.G. Yordens dan ditugaskan di hutan jati Rembang. Mullier dalam tahun 1865 pensiun sebagai inspektur kehutanan, dan disusul Yordes, bekas opsir angkatan laut, pensiun pula sebagai inspektur kehutanan dalam tahun 1866.
Dapat dikatakan, merekalah pioner yang didatangkan oleh kekuasaan kolonialis Belanda untuk membantu proses pemulihan sekaligus mencegah kerusakan hutan jati di pulau Jawa.
Pendataan dan Awal Pelestarian Hutan Jawa
Sebelum pengelolaan hutan ditangani para ahli di bidang pemerintahan, pendataan luas hutan di pulau Jawa belum pernah dilakukan. Sejarah hutan Jawa boleh dibilang, menunjukkan luas hutan yang cenderung terus menyusut. Meskipun tidak tersedia data pembanding yang dibuat pada masa kekuasaan VOC, guna mengetahui jumlah luasan sebelumnya.
Setelah era kumpeni berakhir ditangan Bataafsche Republiek, maka sesuai perjanjian (Constitutie der Bataafsche Republiek 1798) semua harta dan hutang kumpeni diambil alih oleh penguasa baru yang dipimpin Aziatische Raad, yang menurut pasal 249 harus membuat dan merencanakan charter untuk mengurus daerah jajahan.
Charter ini selesai dalam tahun 1803 dan pada tahun 1804 diberlakukan. Salah satu produk ketetapan dalam peraturan ini menyebutkan bahwa, ‘semua hutan di Jawa menjadi milik pemerintah.
Berlandaskan keputusan tersebut, maka mulai tahun 1808 oleh Daendels (Gubernur Jenderal, s/d Mei 1811) diangkat sejumlah pejabat: 1. Inspektur Jenderal Hutan Kayu untuk seluruh Jawa; 2. Sekretaris dan Fiskal diperbantukan kepada Inspektur Jenderal Hutan Kayu; 3. Presiden dan anggota untuk administrasi hutan kayu; 5. Posgangger dan; 6. Komisaris kayu. Kepada masing-masing pejabat tersebut dilekatkan kewenangan sesuai perintahnya.
Daendels (14 Januari 1808 s/d 16 Mei 1811 menjadi Gubernur Jenderal. Tijds. V. Ned. Ind. 1869 jg. 3 dl II blz. 158 G.H.v. Soest), dalam tahun 1808 menetapkan peraturan bahwa: a. Penguasaan hutan harus dilaksanakan oleh Boschwezen (untuk pertama kali istilah ini digunakan); b. Pemungutan hasil hutan harus dijalankan oleh Boschwezen; c. Perdagangan kayu oleh partikelir tidak lagi diijinkan.
Masa penataan kesatuan hutan
Selanjutnya, 57 tahun kemudian, terbitlah peraturan hukum pertama di bidang kehutanan, yakni Boschreglement 1865 yang merupakan produk hukum awal yang mengacu kepada azas kekekalan hutan. Pada intinya diundangkan agar dapat dicegah tindakan liar penebangan hutan Jawa yang telah mengancam kelestariannya.
Sesudah yang pertama tersebut, menyusul penetapan Boschreglement yang kedua pada 1874. Dengan produk peraturan perundang-undangan di bidang kehutanan ini, dimulailah dilakukan pembagian kesatuan hutan di seluruh Jawa. Dalam masa ini pula penataan kawasan hutan mulai dapat ditetapkan meskipun belumlah sampai terinci.
Yaitu berawal dari tindakan penetapan batas kesatuan hutan yang dinamakan boschdistrict dengan landasan ordonansi 10 September 1874 Staatsblad No.215 dan mulai berlaku bersamaan dengan Reglement hutan baru pada tanggal 3 Mei 1875 (Stsbl.no.84)
Hutan-hutan jati di Jawa dan Madura dibagi-bagi menjadi 13 Distrik Hutan (J.W.H. Cordes, Inspekteur b.h. Boschwezen in Ned. Ind. De Djatibosschen op Jawa 1881 hal.255. 1887 meletakan jabatan Chef v.h. Indisch Boschwezen), sebagai berikut: 1. Karesidenan Banten dengan Kabupaten Cianjur dari karesidenan Priangan; 2. Karesidenan Priangan, kecuali Kabupaten Cianjur, dengan karesidenan Karawang dan Cirebon; 3. Karesidenan Tegal dan Pekalongan; 4. Karesidenan Semarang; 5. Karesidenan Kedu, Bagelen dan Banyumas; 6. Karesidenan Jepara; 7. Kabupaten Rembang dan Blora dan Karesidenan Rembang; 8. Kabupaten Tuban dan Bojonegoro dari Karesidenan Rembang; 9. Karesidenan Surabaya dan Pasuruan; 10. Karesidenan Probolinggo, Besuki dan Banyuwangi; 11. Karesidenan Kediri; 12. Karesidenan Madiun, kecuali Kabupaten Ngawi; dan 13. Kabupaten Ngawi dari Karesidenan Madiun dan Karesidenan Surakarta.
Dalam kawasan boschdistrict Priangan, Krawang, Banyumas, Bagelen dan Probolinggo-Besuki terdapat sebagian besar hutan rimba. Sedangkan hutan jati dalam 10 boschdistrict lainnya terdapat lebih kurang 600 ribu hektare.
Du Quesne van Bruchem (Tectona 1935 hal. 92) menceritakan pekerjaan panitia yang mengurus/memeriksa hutan jati di daerah hutan Pati (ex boschdistrict Jepara) dalam tahun 1776. Bahwa hutan jati sejak 1776 sampai tahun 1925 (kurun waktu 149 tahun) mengalami pengurangan luas mencapai lebih kurang 75 %.
Akan tetapi sempat muncul pula kasus anomali dalam pencatatan tentang jumlah luas hutan jati. Yaitu tersebut pada tahun 1874 dicatat luasnya hanya 600 ribu hektare. Namun hasil pencatatan ulang pada tahun 1940 justru menyebutkan luasan hutan jati sampai 824.049 hektare.
Ham, dalam notanya menggambarkan riwayat hutan boschdistrict Probolinggo- Besuki. Bahwa di masa kekuasaan kumpeni di sisi selatan kawasan hutan tersebut pernah terjadi banyak pengrusakan dan pembukaan kawasan hutan. Sekitar tahun 1770 tentara kumpeni melakukan ekspedisi dari Banyuwangi ke Jember melalui lereng selatan gunug Raung. Disini timbul peperangan hebat, karena ketika itu daerah Lumajang dan Blambangan adalah pusat perlawanan oleh kekuasaan setempat. Namun pemandangan pada 1884 tampak daerah tersebut sudah tertutup hutan lagi.
Awal Pemetaan Hutan
Aturan pengelolaan dan pengawasan hutan di seluruh Jawa pada tahun 1808 (Regeling v.h. beheer en de inspectie de bosschen op Java 26 Mei 1808 oleh Maarschalk en Guverneur Generaal Daendels. Tijds. V. Ned. Indie 1869 jg. 3 dl. II blz. 158), pada pengawas hutan pertama diangkat sebagai Inspekteur Generaal over de Houtbosschen van het eiland Java de Kolonel Karel von Wolzogen, memungkinkan dilakukan pendataan luas hutan di Jawa.
Pokok-pokok instruksi yang dikeluarkan oleh Inspektur Jenderal hutan kayu diantaranya menetapkan sebagai berikut: Secepat mungkin Inspektur Jenderal hutan kayu seluruh Jawa – atau memerintah segenap bawahannya – untuk memeriksa semua hutan di pulau Jawa, membandingkan hasil pemeriksaan ini dengan peta yang sudah ada, agar dapat dilakukan pembetulan- pembetulan bilamana perlu (pasal 1) ; Dibawah pengawasannya, Inspektur Jenderal hutan kayu memerintahkan pembuatan peta dari daerah masing-masing, peta mana harus diambil turunan dari peta umum (pasal 2).
Menurut van Soest (G.H. van Soest. Het Boschwezen op Java. Tijds. V. Ned. Indie 1869 3e jg. Dl. II blz. 463) dalam tahun 1869 dibuat keputusan untuk mengukur dan memetakan semua hutan jati di Jawa. Untuk keperluan ini pada awal tahun 1860 dibentuk suatu panitia, yang awalnya dengan susah payah menunaikan tugasnya karena ketiadaan data pendukung.
Dalam tahun 1871 panitia ini dapat menyelesaikan tugasnya berupa hasil pemetaan kawasan hutan jati di Jawa dengan skala 1:10.000; 1:25.000 dan 1:100.000. Meskipun peta-peta ini belum akurat betul, tetapi cukup memadai untuk tujuan pengelolaan hutan jati masa itu.
Pada pengukuran hutan jati terutama dilakukan hanya dalam kelompok hutan besar yang mudah didatangi, atau kelompok hutan jati di sepanjang tepian sungai yang cukup tersedia sarana transportasinya.
Menurut panitia ini, luas global hutan jati di seluruh Jawa terdapat lebih kurang seluas 6.000 kilometer persegi (Km2) atau setara 600.000 hektare. Adapun sebarannya meliputi sejumlah daerah : Krawang (14,5 Km2; tidak termasuk kawasan milik partikelir); Priangan (128 Km2); Cirebon (126 Km2); Tegal (84 Km2); Pekalongan (68 Km2); Semarang (875 Km2); Jepara (225 Km2); Rembang (2845 Km2); Surabaya (334 Km2); Madura (tidak diukur); Pasuruan (26 Km2); Probolinggo (44 Km2); Besuki (15 Km2); Banyuwangi (tidak diukur); Surakarta (sebagian diukur: dibagian Kesunanan 330 Km2 data 1869); Yogyakarta (tidak diukur); Madiun (920 Km2); dan Kediri (260 Km2). *** SJA/ Infojati.




